Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Menentukan Volume Bangun Ruang Melalui Penggunaan Alat Peraga Kubus Satuan Kelas VI Di SD Negeri 74/X Bangun Karya

  • Whatsapp

ARTIKEL

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM MENENTUKAN VOLUME BANGUN RUANG MELALUI  PENGGUNAAN ALAT PERAGA KUBUS SATUAN KELAS VI DI SD NEGERI 74/X BANGUN KARYA

Bacaan Lainnya

 

 

OLEH:

 

THAMRIN, S.Pd

NIP. 196504021993031 006

                                                                                                              

 

 DINAS PENDIDIKAN

KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR

SD NEGERI 74/X BANGUN KARYA

2020


 

“Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Menentukan volume Bangun Ruang Melalui Penggunaan Alat Peraga Kubus Satuan Kelas VI SD Negeri 74/X Bangun Karya ”.Thamrin,S.Pd (2020)

 

                                                                                ABSTRAK

Kata Kunci : hasil belajar matematika,alat peraga kubus satuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan informasi dan membahas tentang Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Menentukan volume Bangun Ruang Melalui Penggunaan Alat Peraga Kubus Satuan Kelas VI SD Negeri 74/X Bangun Karya

Penelitianinitermasukdalamjenispenelitiantindakan kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan di SDNegeri 74/X Bangun Karya Kecamatan Rantau RasauKabupaten Tanjung JabungTimur.Waktu penelitian ini dilaksanakan semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020, dimulai pada bulan Februari 2020. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa SDNegeri 74/X Bangun Karyayang berjumlah 15orang. Prosedur penelitian terdiri dari tiga siklus dengan masing-masing siklus dua kali pertemuan. Setiap siklus terdiri atas empat tahap penelitian yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan observasi, wawancara, dokuemtasi, catatan lapangan. Teknik analisis data menggunakan rumus persentase dan reduksi data.

Tahap awal pada siklus I  dibuat perencanaan untuk membuat RKA, langkah kedua melaksanakan RKA, observer mencatat jalannya pelaksanaan siklus I dilembar observasi, hasil observasi direfleksi dan dituangkan dalam lembar refleksi. hasil refleksi perlu perbaikan pada: kegiatan pendahuluan, contoh konkrit, pelayanan pada peserta dan pemberian penguatan. Pada akhir siklus I dilakukan evaluasi produk dengan hasil yang tidak memuaskan penelitian belum mencapai target, perlu dilanjutkan dengan siklus II.

Hasil refleksi dituangkan dalam perencanaan untuk siklus II melahirkan RKA siklus II, kemudian dilakukan bimbingan sebagai pelaksanaan siklus II, observer mencatat kegiatan siklus II dilembar observasi. Hasil observasi direfleksi dan dituangkan dalam lembar refleksi. hasil refleksi menyatakan bahwa “penggunaan alat peraga kubus satuan”  dapat menyelesaikan  sebuah PTK. Hasil evaluasi produk dikonversikan dengan tabel hasil konversi menyatakan bahwa penelitian sudah  mencapai target,dan tidak perlu dilanjutkan kesiklus berikut nya.

Perbandingan hasil evaluasi produk siklus I,dansiklus II dan siklus III terdapat peningkatan sebesar 30%. Hasil perbandingan tersebur menyatakan bahwa dengan “Pengunaan Alat Peraga Kubus Satuan” dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIdi SD Negeri 74/X Bangun Karya Kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur

 


PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

Mata pelajaran Matematika di Sekolah Dasar  merupakan mata pelajaran yang dianggap paling sulit oleh siswa sehingga berakibat pada  rendahnya  hasil  belajar mata pelajaran tersebut.  Padahal matematika merupakan mata pelajaran yang wajib diberikan bagi siswa sejak Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas.  Jumlah jam mata pelajaran matematika cukup banyak dibandingkan dengan mata pelajaran IPA dan IPS.

Kemampuan  baca tulis dan berhitung bagi siswa SD merupakan syarat naik ke kelas IV. Tes Kemampuan Dasar  (TKD) menjadi acuan dalam peningkatan mutu pendidikan   khususnya SD kelas III.Persyaratan tersebut  dipandang satu keharusan yang harus dikuasai siswa sebelum memasuki kelas tinggi (kelas IV-VI).

Matematika merupakan mata pelajaran yang  melatih anak untuk berpikir rasional, logis, cermat, jujur  dan sistematis. Pola pikir yang demikian sebagai suatu yang perlu dimiliki siswa sebagai bekal dalam kehidupan seharihari.  Penerapan matematika dalam kehidupan sehari-hari  akan dapat membantu manusia  dalam memecahkan masalah-masalah kehidupan dalam berbagai kebutuhan kehidupan.Karena  kondisi yang demikian pentingnya, maka  matematika diberikan sejak anak memasuki bangku sekolah sejak kelas I sampai kelas XII (SMA). Namun demikian  matematika masih kurang diminati anak didikbaik di tingkat SD, SMP maupun  SMA. Hal yang demikian perlu mendapatkan perhatian bagi guru  untuk memperbaiki metode serta pendekatan  dalam belajar mengajar sehingga anak didik merasa senang dan termotivasi untuk belajar matematika.

Sebagaimana yang terjadi di kelas VI SD Negeri 74/X Bangun Karya Kecamatan Rantau Rasau, di mana  hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika merupakan urutan yang terbawah dari semua mata pelajaran yang diajarkan di kelas VI. Diketahui bahwa pada pokok bahasan  Volum Bangun Ruang  dari ulangan harian yang dilakukan selama dua kali, hasilnya baru mencapai rata-rata dibawah KKM Hal tersebut  masih sangat perlu diupayakan peningkatannya..Hal tersebut menunjukkan bahwa  ada kesulitan yang cukup berarti bagi siswa  kelas VI dalam memecahkan dan menyelesaikan soal pokok bahasan volum bangun ruang, maka perlu upaya peningkatan kemampuan melalui upaya–upaya  yang dapat dilakukan oleh guru.

Upaya peningkatan kemampuan siswa terhadap pokok bahasan volume bangun ruang antara lain melalui penggunaan alat peraga. Penggunaan  alat peraga  dalam kegiatan pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pemahaman siswa  terhadap konsep-konsep matematika yang dipelajarinya dengan mudah. Konsep matematika seperti bangun  ruang  akan mudah dimengerti anak didik pada saat pembelajaran berlangsung. Sifat alat peraga itu sendiri  membantu memperjelas konsep-konsep abstrak agar menjadi konkret.

Alat peraga akan merangsang minat siswa sekaligus mempercepat proses pemahaman siswa ketika mendapati hal-hal yang abstrak  dan yang sulit dimengerti anak. Kebaikan alat peraga bagi pembelajaran juga membuat anak lebih bersemangat karena tidak merasakan kejenuhan. Pembelajaran   dengan alat peraga mudah dicerna anak didik dibandingkan dengan pembelajaran yang

bersifat verbalistik.

Alat peraga yang tepat  untuk menerangkan volum bangun  ruang  diantaranya  kubus satuan. Alat peraga tersebut  menjadikan anak akan mampu memecahkan masalah melalui pengamatan, penganalisisan dan pembuktian secara terpadu sehingga konsep volum bangun ruang akan mudah diselesaikan anak didik pada saat mempelajari konsep volum bangun ruang.

Sejalan dengan latar belakang masalah tersebut di atas maka penulis bermaksud mengadakan penelitian tindakan untuk mengkaji lebih mendalam yang dirumuskan dalam judul “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dalam Menentukan Volum Bangun Ruang Melalui Penggunaan Alat Peraga Kubus Satuan Kelas VI SD Negeri 74/X Bangun Karya Kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur Dalam Menentukan Volum Bangun Ruang Melalui  Penggunaan Alat Peraga Kubus Satuan”.

 

B.  Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada penelitian ini adalah: Apakah penggunaan alat peraga kubus satuan dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI  SD Negeri 74/X Bangun Karya Kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur dalam menentukan volum  bangun ruang (balok dan kubus)?

C.  Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI  SD Negeri 74/X Bangun Karya Kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur dalam menentukan volum  bangun ruang (balok dan kubus).

D.  Manfaat Penelitian

Hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang berarti bagi  siswa, guru, dan sekolah.

1.  Bagi Siswa

a. Meningkatnya hasil belajar pada pokok bahasan volum bangun ruang.

b. Meningkatnya motivasi belajar matematika.

c. Meningkatnya rasa percaya diri.

2. Bagi guru

a. Meningkatkan gairah dalam pelaksanaan proses belajar

b. Merupakan umpan balik keberhasilan siswa dalam menguasai pokok bahasan volum bangun ruang.

c. Meningkatkan kualitas pembelajaran karena dengan kegiatan PTK ini guru lebih terampil menggunakan alat peraga.

3. Bagi Sekolah

Hasil penelitian ini  akan  memberikan sumbangan  dan kontribusi positif  bagi sekolah sebagai upaya untuk meningkatkan  hasil belajar siswa dan dapat dijadikan model pembelajaran oleh guru sekolah dasar lain dalam pembelajaran pokok bahasan volum bangun ruang.

 


 

METODE PENELITIAN

Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah Siswa kelas VISDN 74/X Bangun Karya Makmur Kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur tahun pelajaran 2019/2020 dijadikan subjek penelitian. Jumlah subjek dalam penelitian yaitu 15 anak. Secara umum bila ditinjau dari social budaya dan ekonomi masyarakat peserta didik tergolong cukup perhatiannya terhadap pendidikan dan ini salah satu pendorong terhadap peningkatan kualitas pendidikan SD N74/X Bangun Karya Kecamatan Rantau Rasau.

Obyek Penelitian

Obyek penelitian ini adalah penggunaan alat peraga kubus satuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas VI SDN 74/X Bangun Karya Kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur tahun pelajaran 2019/2020.

a. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SDN 74/X Bangun Karya Kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur pada bulan Februari tahun 2020.

b. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SDN 74/X Bangun Karya Kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung Timur Propinsi Jambi.

c. Jadwal Penelitian

Tabel 3.1 Jadwal Penelitian

No

Kegiatan Bulanan
1 Pembuatan Laporan Januari 2020
2 Pelaksanaan Siklus I

Pelaksanaan Siklus II

Pelaksanaan Siklus III

Februari 2020

Februari 2020

Februari 2020

3

Pelaporan

Maret 2020

 

Prosedur Penelitian

Penelitian ini menggunakan Metode Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 3 siklus. Langkah – langkah dalam siklus penelitian tindakan kelas ini terdiri atas empat komponen, yaitu : 1) rencana, 2) tindakan, 3) observasi, 4) refleksi.

  1. Rencana: Pada tahap ini peneliti membuat rencana pelaksanaan pembelajaran dan mempersiapkan sarana prasarana yang diperlukan.
  2. Tindakan adalah tahap melaksakan hal-hal yang telah direncanakan peneliti.
  3. Observasi adalah Kondisi dimana peneliti mengamati kejadian yang ada saat pelaksanaan tindakan.
  4. Refleksi pada dasarnya merupakan suatu bentuk perenungan yang mendalam dan lengkap atas kejadian yang telah terjadi, oleh karena itu tahap ini merupakan tahap evaluasi untuk menentukan akhir siklus.

Untuk lebih jelas lihat pada gambar :

Gambar  3.1 Alur PTK

 

Teknik Penngumpulan Data

Data yang diperlukan dalam penelitian tindakan kelas berupa catatan hasil pengamatan. Untuk mengumpulkan semua data yang diperlukan melalui tes unjuk kerja siswa.Sedangkan alat pengumpulan data yang digunakan penelitian sebagai berikut :

a. Tes Praktik :dipergunakan untuk mendapat data dari unjuk kerja siswa pada proses pembelajaran bola voli.

b. Lembar Observasi:dipergunakan sebagai teknik untuk mengumpulkan data tentang aktivitas siswa dan guru selama kegiatan pembelajaran penerapan model variasi passing untuk meningkatkan hasil pembelajaran bola voli pada siswa kelas IV SDN 74/X Bangun KaryaKecamatan Rantau RasauKabupaten Tanjung Jabung Timur

c. Evaluasi : Pengumpulan dengan berbagai cara evaluasi agar penulis mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam menguasai lompat tinggi yang disesuaikan fakta yang ada dalam proses pembelajaran dilapangan.

 

Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:

  1. Silabus

Yaitu seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran pengelolaan kelas, serta penilaian hasil belajar.

  1. Rencana Persiapan Pembelajaran (RPP)

Yaitu merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran. Masing-masing RPP berisi Standar kompetensi, Kompentensi dasar, indikator pencapaian hasil belajar, tujuan pembelajaran dan kegiatan belajar mengajar.

  1. Lembar Observasi Kegiatan Belajar Mengajar
  2. Lembar observasi penggunaan pendekatan bermain dalam pembelajaran lompat tinggi, untuk mengamati kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran.
  3. Lembar observasi aktivitas siswa dan guru untuk mengamati aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran.
  4. Angket Motivasi Terhadap Metode Pendekatan Bermain

Angket ini digunakan untuk mengetahui apakah siswa-siswa tersebut menyenangi model pembelajaran yang digunakan penulis.

  1. Tes praktek

Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, digunakan untuk mengukur kemampuan pemahaman materi yang diajarkan

.

Indikator Keberhasilan

Terjadi peningkatan minat belajar yang ditandai dengan prestasi belajar siswa dengan rata-rata nilai tes menjadi > 70 ditandai dengan hasil pembelajaran pada siklus I dan siklus II dan III.Sebesar 93% siswa telah mencapai batas ketentuan kriteria minimal yang ditentukan yaitu 70.Kemampuan melakukan passing bola voli meningkat diikuti dengan motivasi belajar peserta didik.

 

HASIL  DAN PEMBAHASAN

 

Hasil

Hasil observasi  pada siklus III  dapat dikatakan bahwa pembelajaran berjalan lancar dan baik. Keaktifan siswa  sangat respektif dan partisifatif. Pembelajaran yang dilakukan guru berlangsung secara interaktif multi arah, penguasaan  guru terhadap materi pelajaran  sangat menguasai,  alat peraga yang digunakan dapat dimanfaatkan secara optiomal oleh siswa dan motivasi belajar siswa sangat tinggi.

Berdasarkan hasil tes siklus III dapat dikatakan memuaskan karena rata-rata hasil belajar sebesar 90 yang berarti  telah baik dan tuntas.

Berdasarkan hasil tes pada akhir siklus III sebagaimana tersebut dalam tabel di atas diketahui bahwa peningkatan hasil belajar siswa  dengan rata-rata hasil belajar mencapai 90  meningkat dari 75 pada akhir siklus II. Peningkatan tersebut merupakan keberhasilan  yang dicapai melalui  pembelajaran  dengan alat  peraga  kubus satuan untuk meningkatkan  kemampuan mencari volum bangun  ruang bentuk kubus dan balok.

Keberhasilan tersebut  merupakan keberhasilan yang dicapai di mana  dalam  siklus III siswa  mengalami kemajuan belajar yaitu sebagai berikut.

  1. Siswa mampu mengerjakan soal latihan mencari volum bangun ruang tidak lagi dengan menggunakan alat peraga kubus satuan.
  2. Memiliki kemampuan menggunakan rumus mencari volum bangun ruang dalam menyelesaikan soal.
  3. Memiliki sikap disiplin waktu, sehingga mampu menjadikan siswa memanfaatkan waktu yang tersedia dengan sebaik-baiknya.
  4. Motivasi belajar sangat tinggi, diketahui dari frekwensi yang muncul pada saat guru memberi kesempatan siswa untuk mengerjakan soal di depan kelas.
  5. Meskipun ada siswa yang belum mencapai tuntas belajar, tetapi secara normatik dapat dikategorikan  berhasil karena dapat  meningkat  hasil belajarnya  dari siklus ke siklus.

Dengan demikian sampai batas akhri siklus III secara klasikal taraf serap materi volum bangun ruang mencapai keberhasilan sebesar 93 % dengan rata-rata kelas 90.

 

Pembahasan    

Berdasarkan  hasil siklus I, II dan siklus III yang telah diketahui dari hasil penelitian  tersebut meningkat, pada siklus I penelitian tindakan kelas ini belum  berhasil sesuai dengan yang diharapkan rata-rata hasil  belajar baru mencapai 65 pada siklus II baru mencapai 75 dan pada akhir siklus III rata-rata hasil belajar meningkat menjadi 90. Dari hasil penelitian ini, pada siklus I,II dan siklus III  diketahui bahwa siswa dalam menyelesaikan soal mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari diagram berikut ini :

Gambar 4.1 Diagram Hasil Belajar Siswa Per siklus

Pembelajaran  pada siklus I dan II dilaksanakan, siswa belum dapat menyelesaikan seluruh soal karena masih kesulitan dalam mencari Volum bangun ruang, belum mampu mengaplikasikan rumus dan masih mengalami kebingunga dalam menentukan volum suatu bangun yang berupa gambar pada lembar kerja meskipun sudah ditentukan ukurannya.

Pada siklus I, penggunaan  alat peraga bangun ruang digunakan dalam pembelajaran, penggunaan alat peraga kubus satuan pada siklus I masih terbatas pada bangun-bangun ruang yang sederhana ukurannya   dan siswa masih kurang mampu dalam mencari volum bangun ruang. kesalahan siswa dalam mencari volum karena terfokus dengan cara mencari luas bangun persegi panjang.

Hal ini dibuktikan dari kemampuan siswa menentukan volum menggunakan penggaris kemudian untuk mencari volum dengan mengalikan panjang dan lebarnya saja.

Kemajuan siswa berangsur lebih baik pada akhir siklus II di mana cara mengukur valum bangun ruang dengan menggunakan alat peraga langsung. Pada siklus II  siswa mulai lebih teliti dan terampil dalam mengukur volum bangun ruang dan mengaplikasikan rumus untuk mencari volum bangun ruang. Alat-alat peraga yang dimanfaatkan siswa seperti kotak kapur,  penghapus kayu berbentuk balok,  dan alat peraga yang disediakan guru menambah motivasi siswa  dalam mengerjakan soal-soal latihan. Dengan demikian maka kesulitan mencari volum bangun  ruang tersebut di atasi menggunakan pembelajaran dengan bantuan alat peraga.

Pada siklus II keberhasilan baru menunjukkan 67% dan yang kurang berhasil mencapai  33%. Hal ini karena siswa masih terpokus pada hal-hal kebiasaan lama yaitu gugup dan bingung pada operasi hitungnya, kurang mengetahui  apa sebenarnya yang dikehendaki soal, dan bagaimana seharusnya yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan soal tersebut.

Pada siklus III keberhasilan siswa mencapai 93%.Hal tersebut menunjukkan kemampuan siswa lebih meningkat.Kemampuan tersebut menunjukkan adanya keberhasilan dalam siklus III.Siklus III dilaksanakan  setelah ada refleksi dan perencanaan ulang oleh peneliti menujukan hasil yang optimal karena prestasi belajar siswa mencapai 93 % dan dikatakan tuntas secara individual dan secara klasikal. Hasil belajar yang dicapai sampai pada akhir siklus II mencapai rata-rata kelas 90 .Hal tersebut berarti alat peraga dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam memahami materi menentukan volum bangun ruang.

Kemampuan siswa bertambah meningkat dari siklus I, II dan siklus III karena siswa pada saat pembelajaran menggunakan alat peraga merasa terangsang untuk mempelajari, mengamati, dan mencoba serta menghitung apa yang dilihat dan mudah untuk diketahuinya, anak lebih terfokus karena siswa merasa apa yang dilihat itu memudahkan untuk diikuti, mudah untuk meniru dan melakukan sesuai dengan petunjuk guru.

Apabila dibandingkan dengan keberhasilan yang dicapai tahun-tahun sebelumnya jauh meningkat dengan yang pembelajaran sekarang. Kenyataan yang demikian  tersebut  perlu mendapat perhatian dari guru untuk meningkatkan hasil belajar pokok bahasan menentukan volum bangun ruang melalui penggunaan alat peraga secara maksimal agar  dapat mencapai hasil yang tinggi.

Hal tersebut karena alat peraga bangun datar yang digunakan guru dalam pembelajaran  dapat berfungsi sebagai berikut.

a. Memotivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.

b. Konsep abstrak matematika dapat menjadi lebih konkret.

c. Konsep abstrak menjadi lebih mudah dipahami dengan menggunakan alat peraga.

d. Konsep abstrak matematika akan lebih mudah dipahami dan lebih mudah dimengerti siswa dalam memahami pelajaran. Alat peraga dapat juga dipergunakan hal-hal sebagai berikut.

a) Pembentukan

b) Latihan dan penguatan.

c) Pelayanan terhadap pembedaan individual, termasuk pelayanan terhadap anak yang lemah dan anak yang berbakat.

d) Alat peraga dipakai sebagai alat ukur kemampuan siswa.

e) Pengamatan dan penemuan ide-ide baru serta penyimpulannya.

f) Mengundang anak untuk berdiskusi dengan teman atau guru.

g) Mengundang untuk berpikir analisis.

h) Mengundang partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran sehingga materi mudah dicerna.

Kesulitan yang dihadapi guru dalam pembelajaran menggunakan alat peraga bangun ruang antara lain guru harus menyiapkan peraga yang beraneka ragam,warna-warni agar menarik, menuntut keterampilan guru, menuntut guru agar kretaif dalam mengembangkan srtategi pembelajaran agar materi yang diajarkan tepat sasran, menuntut guru membuat alat peraga yang dapat dilihat seluruh siswa, membutuhkan biaya dan tenaga untuk mengemas alat peraga tersebut.

Berdasarkan hasil observasi dan nilai rata-rata kelas pada siklus I, II, dan pada siklus III dapat diketahui perkembangan hasil belajar siswa dan apa yang diharapkan  dalam penelitian ini dapat diketahui keberhasilannya. Sampoai akhir siklus III pembelajaran yang dilakukan telah mencapai kriteria baik, partisipasi siswa dapat ditingkatkan, hasil belajar telah mencapai rata-rata kelas 90 nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 65 sehingga  dapat dikatakan meningkat.

Sebagaimana hipotesis tindakan yang diajukan dalam bab II yang berbunyi ” melalui penggunaan alat peraga kubus satuan maka hasil belajar siswa  kelas VI SD Negeri 74/X Bangun Karya Kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tajung Jabung Timur dalam menentukan  volum bangun ruang dapat ditingkatkan”  ternyata terbukti.


PENUTUP

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan penelitian ini maka simpulannya adalah pembelajaran dengan alat peraga   kubus satuan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pokok bahasan menentukan volum  bangun ruang (balok dan kubus) pada siswa kelas  VI SD Negeri 74/X Bangun Karya Kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tajung Jabung Timur

 

Saran

Saran yang perlu disampaikan berkaitan dengan hasil penelitian ini  adalah sebagai berikut:

  1. Guru kelas VI agar sedapat mungkin menggunakan alat peraga kubus satuan dalam mengajarkan materi mengukur volum bangun ruang, karena dapat mengingkatkan hasil  belajar siswa.
  2. Guru kelas VI di SD, dapat menggunakan alat peraga kubus satuan sebagai alat peraga  dalam pembelajaran pada pokok bahasan menentukan volum bangun ruang.
  3. Siswa kelas VI diharapkan berlatih dengan menggunakan alat peraga kubus satuan untuk mengerjakan soal-soal latihan menentukan volum bangun ruang sehingga memudahkan dalam menyelesaikan soal tersebut.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdurahman, Mulyono, Kesulitan Belajar Matematika, Jakarta: Gramedia

Depdikbud, 1994, GBPP Matematika  SD, Jakarta:  Depdikbud

Depdikbud, 1994 Kurikulum :Garis-Garis Besar Pengajaran Matematika, Jakarta : Penerbit Depdikbud.

Erman Amti. 1992. Diagnistik Kesulitan Belajar Anak. Jakarta: Gramedia.

Hollands Roy. 1991. Kamus Matematika. Erlangga. Jakarta

Kasijan, 1984. Dasar-dasar  Proses Pembelajaran.Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Lisnawati Simanjutak, 1999. Metode Mengajar Matematika I. Jakarta: Rineka

Poerwadarminta, 1988.Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.

Rustiyah NK. 1995. Masalah-Masalah Keguruan. Jakarta: Bumi Aksara

Sardiman, 1998.Motivasi dan Interaksi Belajar. Jakarta: rajawali Pres

Suyitno Amin,dkk.2001. Matematika Sekolah 1. FMIPA UNNES. Semarang Tim MKPBM,2001. Struktur Pengajaran Matematika, Semarang.

Tim MKDK IKIP Semarang. 1996. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: ILIP

UPI.           2001. Common     Text     Book    Strategi            Pembelajaran Matematika Kontemporer, Bandung: Jurusan MIPA UPI

Winarno Surahmad, 1981. Metodologi Pengajaran. Jakarta:  Rineka Cipta.

Winkel. 1998. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia

Widodo Supriyono, 1991. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *