Efek “Yutubiah” dan Kapitalisasi Opini

  • Whatsapp

Efek “Yutubiah” dan Kapitalisasi Opini

Oleh : Agung Marsudi

Ini potret negeri paling sensi, ketika koalisi oligarki gak cukup. Masih perlu koalisi dengan para buzzer, menghadapi cabaran disrupsi informasi.

Bacaan Lainnya

Jejaring para “pendengung” itu memenuhi langit opini setiap hari. Era digital, memang menjanjikan bagi para milenial, tapi sejatinya ada “rumah lebah” dan rentang kendali, yang jika tak dibatasi akan melahirkan gelombang “populisme api”.

“Red Alert”.
(Rumah merah, mobil plat merah, uang merah, buku-bukunya merah, rapor merah, mestinya sudah dapat kartu merah)

Kapitalisasi opini, alirannya deras di kanal milenial. Narasi polemik kekinian, kesamarataan, toleransi, hak asasi, demokratisasi, dikemas dengan kampanye keberagaman. Titik akhirnya adalah memanfaatkan bonus demografi.

Usianya emas. Potensi virtualnya “mubal” di kelas milenial.

Itu yang digarap, maka tak salah jika membutuhkan isu strategis (tema dan skema), menampung keringat politik yang berkelindan di media, senayan dan istana. Rapi, dirancang, digalang. Tuntas, dibiayai, dan dieksekusi.

Radius dan interaksi ideologinya digitalisasi. Sel-sel anak muda, ditantang berselancar dengan eksistensi, manuver dan “unlimited” transaksi. Dunia siber, perang proxy, politik (dan bisnisnya) bertemu di jaringan. Operasinya, butuh asupan, tenaga, analisis dan intelegensia.

Anatomi digitalnya sederhana, daya tariknya, aneka “efek yutubiah” seperti anak panah, menyasar ke segala arah. Gawai anda adalah “rover” global positioning system, andalah sejatinya ujung tombak yang akan mendengungkan, misi duplikasi para pendengung.

Mudah publik dibuat asik, terbawa cerita “gono-gini” Bill Gates – Melinda, melalui jendela (windows). Lupalah ketegangan vaksin nusantara, kasus Papua, korupsi bansos, prahara tes wawasan kebangsaan di KPK, tembang Bipang Ambawang dan “Red carpet”, untuk kedatangan ratusan warga negara Cina di bandara.

Seperti hawar, seperti amuba, para “pendengung” direkrut, dan merata-rata. [Red]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *