Mengenal Festival Hantu Kelaparan Atau Ulambana, Tradisi Masyarakat Tionghoa

  • Whatsapp

NUSANTARAEXPRESS, SUKABUMI – Suara ketukan mu le bersamaan dengan lantunan doa, terdengar di Vihara Widhi Sukabumi, Jawa Barat, saat menggelar ritual ulambana atau sembahyang untuk mendoakan arwah para leluhur di bulan Tjit Gwee, pada 2 September 2021.

Ritual keagamaan dari umat Buddha ini menambah khazanah tradisi dan kebudayaan masyarakat Indonesia.

Menurut Ocdy Susanto, pemerhati budaya Tionghoa asal Kota Pekalongan, Jawa Tengah, ulambana itu seperti orang yang sedang meminum air, dimana harus ingat kepada sumbernya seperti sungai, sumur dan sebagainya.

“Di kalangan masyarakat Tionghoa, sembahyang ini juga untuk menunjukan bakti anak kepada orang tua atau leluhur mereka,” ujarnya, Rabu (8/9/2021).

Ia juga menyatakan ketertarikannya mengulik tradisi yang satu ini, karena baginya masyarakat Tionghoa sudah menjadi satu paket dengan masyarakat Indonesia lainnya, baik itu Arab dan Jawa, sehingga memunculkan istilah Arjati (Arab, Jawa, Tionghoa) atau Arwana (Arab, Jawa, China).

“Sembahyang kepada leluhur untuk orang Tionghoa adalah suatu kewajiban yang paling utama. Tak heran jika di rumah orang Tionghoa kita sering lihat terdapat altar dimana ada meja untuk menaruh abu kremasi dari leluhur atau orang tua mereka,” sambungnya.

Lanjut Ocdy, Orang Tionghoa juga memiliki budaya yang sangat erat dengan Ba De (8 kebajikan), dimana yang nomor satunya adalah xiao atau bakti, yaitu bakti kepada keluarga termasuk leluhur. Jadi, menjelang hari raya tahun baru imlek, kita dapat melihat mereka bersembahyang di vihara dalam jumlah yang lebih banyak dari biasanya untuk melakukan xiao di bulan Tjit Gwee atau sembahyang ulambana tadi.

Di bulan Tjit Gwee atau bulan ke-7 kalender imlek, orang Tionghoa di berbagai daerah percaya bahwa di bulan ini para arwah leluhur dan arwah-arwah makhluk lainnya dapat mengunjungi alam manusia. Sehingga, di bulan inilah saat yang tepat bagi keturunan yang masih hidup untuk mendoakan semua leluhur/pendahulunya.

Adanya pengaruh Buddha Mahayana, yaitu setiap tanggal 15 bulan 7 tahun penanggalan imlek (Chit Ngiat Pan), pintu akhirat terbuka lebar sehingga arwah-arwah yang berada di dalamnya keluar (bergentayangan) dan lapar, sehingga mereka dirasa perlu diberi makan saat mereka mengunjungi alam manusia.

Jadi, muncullah istilah lain yang saling berkaitan dengan sembahyang Tjit Gwee, yaitu Cioko (ritual sembahyang arwah) atau disebut juga dengan Festival Hantu Kelaparan, Bulan Hantu (Chinese ghost month), Festival Cioko, atau Festival Sembahyang Rebutan.

Festival ini merupakan sebuah tradisi turun temurun rakyat Tiongkok, dimana selain penghormatan kepada arwah-arwah leluhur, mereka berdoa kepada dewa-dewa agar panen yang biasanya jatuh di musim gugur dapat berlimpah dan diberkati.

Ocdy menambahkan, di bulan Tjit Gwee, perayaan Ulambana harus mencakup semua alam sehingga bulan ini merupakan bulan bervegetarian, yaitu menolong semua makhluk yang menderita, bukanlah membunuh untuk dijadikan persembahan. Itulah baru namanya melakukan upacara ulambana.

“Bulan tujuh Imlek merupakan bulan penuh berkah, bulan rasa syukur, dan juga adalah bulan vegetarian. Jadi daripada membunuh makhluk hidup demi mengharapkan keselamatan, lebih baik bervegetarian dengan tulus untuk melindungi semua makhluk hidup demi berkah atau cinta kasih Tuhan, menghindari bencana atau keselamatan,” tandasnya. (Oky/Aan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *